Thursday, 11 April 2013

Cemburu munculnya dari cinta


Senin, 11 Febuari 2013


قَالَ سَعْدُ بن عُبَادَةَ : لَوْ رَأَيْتُ رَجُلا مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرَ مُصْفَحٍ، فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ وَاللَّهِ لأَنَا أَغْيَرُ مِنْ سَعْدٍ، وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّي، وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللَّهِ، ومِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ المُبَشِّرِينَ وَالمُنْذِرِينَ، وَلا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمِدْحَةُ مِنَ اللَّهِ وَمِنْ أَجْلِ ذلِكَ وَعَدَ اللهُ الْجَنَّةَ ( صحيح البخاري)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang tetap dan selalu melimpahkan kebahagiaan, rahmat dan anugerah kepada hamba-hambaNya sepanjang waktu dan zaman. Bulan Rabi’ Al Awwal yang penuh dengan keluhuran telah meninggalkan kita, bulan cinta dan kerinduan telah meninggalkan kita, kita tidak mengetahui apakah di tahun yang akan datang kita masih akan menemui bulan Rabi’ Al Awwal ataukah kita telah dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala.
Meskipun bulan cinta dan kerinduan itu telah pergi meninggalkan kita, namun cahaya Rabi’ Al Awwal, cahaya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tetap berpijar hingga zaman ini berakhir dan berganti dengan kehidupan yang kekal dan abadi, cahaya keluhuran sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menuntun hamba-hamba Allah subhanahu wata’ala menuju cinta dan kasih sayangNya, menuju kelembutan dan pengampunanNya, hingga sedemikian banyak hamba-hambaNya sampai pada keluhuran, kebahagiaan, dan cinta Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala sangat mencintai hamba-hambaNya melebihi kecintaan antara makhluk satu sama lainnya. Sebagaimana riwayat hadits Shahih Al Bukhari yang kita baca ketika sayyidina Sa’ad bin Ubadah Ra berkata :
لَوْ رَأَيْتُ رَجُلا مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرَ مُصْفَحٍ
“Jika aku melihat seorang lelaki bersama istriku, niscaya aku akan memukulnya dengan pedang tanpa ada pengampunan untuknya”.
Sehingga sampailah kabar tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ وَاللَّهِ لأَنَا أَغْيَرُ مِنْ سَعْدٍ، وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّي، وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللَّهِ، ومِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ المُبَشِّرِينَ وَالمُنْذِرِينَ، وَلا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمِدْحَةُ مِنَ اللَّهِ وَمِنْ أَجْلِ ذلِكَ وَعَدَ اللهُ الْجَنَّةَ
“ Apakah kalian takjub dengan kecemburuan Sa’ad?, demi Allah sungguh aku lebih pencemburu daripada Sa’ad, dan Allah lebih pencemburu dariku, oleh karena kecemburuan Allah itu, Dia (Allah) mengharamkan perbuatan keji baik yang tampak atau yang tersembunyi, dan tidak ada yang lebih menyukai memberi maaf dari Allah, oleh karena itu AAllah mengutus orang-orang yang memberi kabar gembira dan yang memberi peringatan (Utusan-utusan Allah). Dan tiada yang lebih menyukai pujian daripada Allah, oleh karena itu Allah menjanjikan surga”
Hal tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih pencemburu daripada sayyidina Sa’ad dan hal ini menunjukkan bahwa kecintaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih besar daripada seluruh cinta orang lain kepada yang lainnya. Kita ketahui bahwa cemburu munculnya dari cinta, maka jika ada seseorang yang mencintai orang lain melebihi kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam merasa cemburu akan hal tersebut, dan Allah subhanahu wata’ala lebih pencemburu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menunjukkan bahwa kecintaan Allah subhanahu wata’ala lebih besar daripada kecintaan semua makhluk.
Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menjelaskan di dalam Fath Al Bari tentang makna ucapan tersebut diantaranya adalah untuk memberi kefahaman dan penjelasan terhadap sayyidina Sa’ad bin Ubadah bahwa tidak seharusnya beliau marah berlebihan karena kecemburuannya itu, karena ia lebih berhak untuk lebih mencintai Allah subhanahu wata’ala dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam daripada kecintaannya kepada istrinya. Dan juga dapat kita fahami dari hadits tersebut bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin memalingkan perhatian para shahabat dari kebencian terhadap Sa’ad bin Ubadah dan membawa mereka untuk memahami bagaimana kecintaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap seluruh ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Allah subhanahu wata’ala jauh lebih Mencintai seluruh makhlukNya daripada kecintaan makhlukNya kepada sesama. Kemudian disebutkan dalam hadits tersebut bahwa karena kecemburuan Allah itulah maka Allah subhanahu wata’ala mengharamkan perbuatan-perbuatan hina baik perbuatan yang secara terang-terangan ataupun yang tersembunyi.
Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menjelaskan hal ini dimaksudkan bahwa Allah subhanahu wata’ala menginginkan hamba-hambaNya untuk tidak menjauh dari Allah subhanahu wata’ala, karena jika seorang hamba banyak melakukan perbuatan hina maka ia akan semakin dekat dengan kemurkaanNya dan menjauh dari kasih sayangNya. Namun demikian Allah subhanahu wata’ala Maha Pemaaf sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut, bahwa tiadalah yang lebih menyukai memaafkan (memberi maaf) daripada Allah subhanahu wata’ala, meskipun semua di alam semesta ini tidak memaafakan kita, namun Allah subhanahu wata’ala tetap memberi maaf, sehingga Allah subhanahu wata’ala mengutus para utusanNya dari nabi dan rasul untuk menuntun hamba-hamba yang terjebak dalam perbuatan dosa menuju kepada jalan yang luhur dan diridhai Allah subhanahu wata’ala.
Allah subhanahu wata’ala menyediakan maaf bagi hamba-hamba yang terjebak dalam kehinaan, bahkan Allah subhanahu wata’ala menyukai memaafkan, maka janganlah pernah berputus asa bagi yang telah terjebak dalam kehinaan dosa. Dan disebutkan dalam hadits tersebut bahwa tiadalah yang lebih menyukai pujian daripada Allah, oleh karena itulah Allah subhanahu wata’ala menjanjikan surga (untuk orang-orang yang memujiNya), demikian riwayat yang terdapat dalam Shahih Al Bukhari. Adapun di dalam Shahih Al Muslim disebutkan : “oleh karena itulah Allah subhanahu wata’ala menciptakan surga”, yaitu untuk orang-orang yang memujiNya subhanahu wata’ala.
Hadits tersebut berkaitan erat dengan pembahasan kita malam hari ini dalam kitab Ar Risaalah Al Jaami’ah karya Hujjatul Islam Al Imam Ahmad Bin Zen Al Habsyi. Sebagaimana pembahasan kita masih dalam bab tentang pujian kepada Allah subhanahu wata’ala. Kita fahami bahwa Allah subhanahu wata’ala menyukai pujian karena pujian itu muncul dari rasa cinta, maka Allah subhanahu wata’ala menciptakan makhluk yang paling mulia dari semua makhluk yaitu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam Muhammad yang bermakna “Yang paling banyak dipuji”, maka makhluk yang paling berhak untuk dipuji adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga ketika orang quraisy menamakan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama Mudzammam yang berarti “yang paling banyak dicela”, maka para sahabat sangat sedih dengan hal tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menghibur mereka dengan berkata : “Mereka (kuffar quraisy) menamakan aku dengan Mudzammam (yang banyak dicela) , namun sungguh aku adalah Muhammad (yang banyak dipuji)”, sehingga ucapan tersebut menenangkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, demikian yang teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari. Karena yang mencela beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah segelintir orang-orang kuffar quraisy, sedangkan yang memuji beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Rabbul ‘alamin subhanahu wata’ala dan semua makhluk Allah subhanahu wata’ala di alam semesta kecuali dari golongan jin dan manusia yang pendosa yang tidak memahami kecintaan dan kerinduan kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita masih dalam pembahasan makna kalimat Alhamdulillah , diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat maghrib berjamaah, dan ketika beliau berdiri dari ruku’ dan mengucapkan :
?????? ????? ?????? ????????
“ Allah Maha Mendengar orang yang memujiNya”
Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita hamba yang selalu memujiNya, maka berwaspadalah atas bisikan syaitan yang mangajak kita untuk bersangka buruk terhadap Allah subhanahu wata’ala, karena hal tersebut akan dipertanyakan oleh Allah meskipun seorang hamba telah berada di dalam surga. Sebagaimana Al Imam At Thabari di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ketika manusia telah masuk ke dalam surga, maka Allah subhanahu wata’ala memanggil salah satu hambaNya dan bertanya: “Wahai Fulan dahulu ketika di dunia, di tempat dan di waktu ini, engkau telah bersangka buruk kepadaKu”, maka hamba itu pun merasa risau dan takut lalu berkata : “Wahai Allah, betul di saat itu aku telah bersangka buruk terhadapMu, namun bukankah Engkau telah mengampuni dan memaafkanku?”, maka Allah subhanahu wata’ala berkata : “Aku telah mengampuninya”. Menunjukkan bahwa bersangka buruk kepada Allah adalah perbuatan yang harus ditinggalkan karena ketika telah berada di surga pun Allah masih mempertanyakan kepada hamba-hamba yang pernah bersangka buruk kepada Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga hati kita dari prasangka buruk kepadaNya, dan menjadikan hati kita selalu asyik memujiNya, karena Allah subhanahu wata’ala mendengar hamba-hamba yang memujiNya baik dengan suara atau tanpa suara. Seluruh ciptaan Allah subhanahu wata’ala menuntun manusia untuk memuji Allah subhanahu wata’ala, baik hal itu berupa musibah atau kenikmatan yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala.
Kita lihat kesempurnaan imana sayyidina Umar bin Khattab Ra yang berkata bahwa beliau bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala jika datang musibah kepadanya dikarenakan tiga hal, yang pertama yaitu karena musibah itu tidak menimpa imannya, namun hanya menimpa hal yang bersifat duniawi saja seperti harta, keluarga, penyakit atau yang lainnya, dan kedua karena sayyidina Umar bin Khattab meyakini bahwa Allah subhanahu wata’ala Maha Mampu memberikan musibah yang lebih besar daripada musibah yang beliau terima, namun Allah subhanahu wata’ala memberikan musibah yang lebih ringan kepadanya, dan yang ketiga karena dengan datangnya musibah tersebut Allah subhanahu wata’ala menghapus dosa-dosa darinya. Demikian derajat keimanan sayyidina Umar bin Khattab ra yang sangat luhur, mungkin sangat sulit dan berat bagi kita untuk dapat mencapainya.
Maka selayaknya kita memahami ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika bangun dari ruku’ “Sami’a Allahu liman hamidah” bahwa Allah subhanahu wata’ala mendengar hamba yang memujiNya. Dan ketika itu seseorang yang shalat dibelakang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan :
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
“Wahai Tuhan kami bagiMu segala pujian, pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah”
Dan ucapan tersebut belum pernah diajrakan sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka setelah selesai shalat Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam berkata : “Siapakah diantara kalian tadi yang telah mengeluarkan ucapan di dalam shalat ?”, namun tidak ada dari mereka yang menjawab, sampai tiga kali beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, maka seseorang kemudian menjawab : “Aku wahai Rasulullah yang telah mengeluarkan ucapan tersebut”, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sungguh 33 malaikat memperebutkan ucapan tersebut untuk dicatat”. Al Imam Ibn Hajar menjelaskan bahwa ucapan tersebut berjumlah 33 huruf, sehingga 33 malaikat memperebutkannya untuk dicatat dan kemudian disampaikan kepada Allah subhanahu wata’ala, karena malaikat belum pernah mendengar pujian seindah itu. Hal ini menunjukkan bahwa setiap huruf dalam pujian kepada Allah subhanahu wata’ala terdapat satu malaikat yang menjaganya.
Rahasia kemuliaan pujian kalimat Alhamdulillah sangatlah agung, maka layak untuk kita fahami dan kita renungkan yang mana dengan hal itu kita akan senantiasa berusaha untuk selalu memuji Allah subhanahu wata’ala atas kesempurnaanNya dan kederamawananNya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling banyak memuji Allah subhanahu wata’ala, dan Allah subhanahu wata’ala akan lebih banyak melimpahkan pujian kepada hamba yang memujiNya, yaitu berupa limpahan pahala yang jauh lebih besar dengan 10 kali lebih besar hingga 700 kali lebih besar dari perbuatan hambaNya, demikian penjelasan akan makna dan keagungan dari kalimat“Alhamdulillah”. Selanjutnya kita akan membahas kalimat رَبِّ الْعَالَمِيْنَ “Rabb Al ‘Alamiin”, kalimatرَبٌّ “Rabb” memiliki tiga makna, yang pertama bermakna “yang mengasuh”, sebagaimana dalam ucapan :
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا
“ Ya Allah ampunilah (dosaku) dan (dosa) kedua orang tuaku dan sayangilah keduanya, sebagaimana (kasih sayang) mereka ketika mengasuhku waktu aku kecil”
Maka kalimat “Rabb” tidak hanya digunakan untuk Tuhan saja namun juga digunakan untuk manusia. Kedua kalimat “Rabb” bermakna “Yang Memiliki”, sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa dahulu di masa jahiliyyah, para budak memanggil majikan mereka dengan panggilan “Rabbii”yang berarti “pemilikku”, secara bahasa panggilan tersebut mempunyai makna yang benar, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang para budak untuk memanggil majikannya dengan sebutan “Rabbii”, dan diperbolehkan untuk memanggilnya dengan sebutan “Sayyidi” atau“Maulaya” yang berarti “Tuanku”.
Dalam hal ini para ulama’ menjelaskan ; jika para budak telah diajari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil majikannya dengan sebutan “Sayyidi” atau “Maulaaya”, maka sungguh sebutan tersebut lebih berhak untuk kita gunakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka selayaknyalah kita menyebut Sayyidina wa Maulaana Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena hal ini telah diperbolehkan bahkan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bukanlah hal yang kultus apalagi syirik sebagaimana yang telah dituduhkan oleh sebagian orang. Adapun yang ketiga makna kalimat “Rabb” adalah “Tuhan Yang disembah”, dan ketiga makna tersebut ada pada Allah subhanahu wata’ala yaitu Yang Maha Mengasuh, Yang Maha Memiliki, dan Yang Maha Berhak Disembah. Maka tiada yang Maha Mengasuh makhluk kecuali Allah subhanahu wata’ala, dan tiada Yang Memiliki segala sesuatu kecuali ALlah subhanahu wata’ala dan tiada yang berhak dan layak disembah selain Allah subhanahu wata’ala.
Selanjutnya makna kalimat العالمين ; Al ‘alamin , memiliki beberapa makna, dan sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama’ kalimat tersebut mempunyai dua makna, pertama makna Al ‘Aalmiin adalah segala sesuatu selain Allah subhanahu wata’ala. Kedua, makna kalimat Al ‘Alamin adalah malaikat, jin dan manusia, karena kalimat ini juga dapat dibaca dengan العالمين : Al ‘Alimin, yaitu yang memilki alam pemikiran atau ilmu pengetahuan, karena makhluk-makhluk selainnya tidak banyak diberi pengetahuan oleh Allah subhanahu wata’ala.
Maka makna kalimat رب العالمين : Rabb al ‘Alamin yang pertama adalah bahwa Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mengasuh segala sesuatu selainNya, yaitu seluruh makhluk termasuk hewan, manusia, jin, atau malaikat dan lainnya. Adapun makna kalimat ?? ???????? yang kedua adalah bahwa Allah subhanahu wata’ala Yang Maha memiliki, Yang Maha mengasuh malaikat, jin dan manusia, serta Yang Maha berhak disembah oleh malaikat, jin dan manusia. Demikian makna dari kalimat رب العالمين dalam pembahasan kitab Ar Risalah Al Jaami’ah oleh Al Imam Ahmad bin zen Al Habsyi Ar. Sering kita memuji Allah dengan ucapan :
اَلْحَمْدُلله رَبِّ الْعَالمَيِنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, pujian yang menyamai nikmat-nikmatNya dan mencukupi penambahanNya”
Kalimat tersebut diajarkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada nabi Adam As, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat shahih ketika nabi Adam As masih berada di surga ia selalu memuji Allah subhanahu wata’ala dan bertasbih kepada Allah subhanahu wata’ala, namun setelah ia diturunkan ke bumin, maka Allah subhanahu wata’ala memerintahnya untuk bercocok tanam, berternak, memakmurkan bumi dan lainnya, sehingga nabi Adam As merasa bingung dan risau karena ia tidak lagi dapat bertasbih dan memuji Allah subhanahu wata’ala bersama para malaikat sebagaimana ketika ia di surga, maka nabi Adam As memohon kepada Allah untuk menagajarinya ucapan, yang mana dengan ucapan itu ia sama seperti di saat ia memuji Allah subhanahu wata’ala di surga, maka Allah subhanahu wata’ala mewayuhkan kepada nabi Adam As untuk membaca kalimat tersebut sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali di sore hari. Maka kalimat tersebut adalah pujian dan tasbih kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan kalimat ini juga terdapat dalam Ratib Al ‘Atthas, Ratib Al Haddad dan Al Wird Al Lathif. Sehingga jelaslah bahwa rahasia kemuliaan pujian kepada Allah subhanahu wata’ala membuat hidup kita terpuji, dan dimuliakan oleh Yang Maha Mampu memuliakan hamba-hambaNya.
Sungguh rahasia keluhuran Allah subhanahu wata’ala tersimpan dalam tuntunan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, makhluk yang peling indah dari seluruh makhluk Allah subhanahu wata’ala, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang paling banyak memuji Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah subhanahu wata’ala menerangi jiwa-jiwa kita untuk senantiasa asyik memujiNya. Maka selayaknyalah bagi kita untuk memperbaiki keadaan di hari-hari kita untuk selalu berbuat hal-hal yang terpuji, namun bukan dengan tujuan untuk dipuji oleh makhluk akan tetapi agar dipuji oleh Allah subhanahu wata’ala. Karena jika tujuannya hanya agar dipuji oleh makhluk, maka tentunya hal tersebut adalah perbuatan sia-sia dan tidak akan mendatangkan pahala bagi kita.
Dan jika seseorang berbuat baik karena hanya ingin dipuji oleh makhluk, maka Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mampu membuat makhluk itu memujinya atau sebaliknya, sehingga jika seseorang hanya ingin dipuji oleh makhluk maka hal itu adalah perbuatan yang sia-sia. Dalam hal ini guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Hafizh mengatakan bahwa hal demikian merupakan penyakit hati, yang mana penyakit-penyakit hati seperti itu tidak dapat terobati kecuali dengan tuntunan guru, maka tidak cukup hanya dengan membaca atau memperlajarinya sendiri karena hal demikian akan sulit untuk dijalani, dimana sang guru tidak hanya mengajari dengan berbicara saja, namun juga melimpahkan cahaya keberkahan tuntunan itu yang membuat sang murid mampu untuk meninggalkan hal-hal yang hina di dalam niat-niat di hati muridnya. Beliau menyampaikan sebuah hikayah bahwa seorang murid berkata kepada gurunya bahwa menjauhkan sifat tidak ingin dipuji oleh orang lain atas perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannya merupakan hal yang mudah, dan dapat ia laksanakan dan tidak perlu untuk dipelajari lagi. Maka sang murid itu melewati hari-harinya dengan banyak membantu orang lain dengan cara bersedakah, sehingga setiap kali ada yang datang dan meminta bantuan kepadanya maka ia pun membantunya, dan beberapa kali datang orang sama untuk meminta bantuannya dan ia pun memberi bantuan kepada orang tersebut. Beberapa lama kemudian ia pun merasa gembira dan bangga atas perbuatan baik yang telah ia lakukan, hingga ada keinginan dalam dirinya untuk menyampaikan hal tersebut kepada gurunya.
Maka ia pun menemui sang guru dan mulai bercakap-cakap dengannya, serta ucapannya pun mulai mengarah bahwa ia telah banyak membantu orang lain. Sang murid berkata : “Di zaman sekarang begitu banyak orang yang susah”, sang guru berkata : “Iya betul”, lantas sang murid berkata lagi : “Sehingga banyak yang meminta-minta pertolongan”, sang guru kembali menjawab : “Iya betul”, kemudian ia berkata lagi : “Sampai-sampai setiap hari aku didatangi oleh orang yang sama untuk meminta bantuan dan aku membantunya”, sang guru pun tersenyum dan berkata : “Orang itu datang dan meminta-minta kepadamu aku yang menyuruhnya karena untuk mengujimu, sebagaimana engkau telah menyangka bahwa dirimu mampu melakukan perbuatan baik dengan niat-niat yang suci dan iklhas hanya karena Allah subhanahu wata’ala, namun telah terbukti saat ini engkau ingin orang lain mengetahui bahwa engkau telah berbuat banyak kebaikan, oleh sebab itu duduklah bersama guru untuk dapat mengobati penyakit-penyakit hati kita”.
Karena penyakit hati itu tidak cukup diobati hanya dengan membaca saja, namun juga perlu cahaya yang dapat menerangi jiwa hingga sifat-sifat hina itu sirna. Karena jika sifat-sifat hina itu hanya ingin diobati dengan pemahaman otakatau pemikiran kita terhadap sebuah buku, maka pemikiaran kita terlebih dahulu akan tertipu dan terjebak oleh sifat-sifat hina di hati kita, namun cahaya tuntunan yang luhur dari sang guru dapat menjadikan hati suci dan dapat membuat seseorang lupa dengan perbuatan-perbuatan baik yang ia lakukan yang sering membuat penyakit riya’ muncul dalam diri seseorang, dan sebaliknya selalu ingat dengan aib-aib yang ada pada dirinya. Sehingga sebanyak apapun perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang, maka Allah subhanahu wata’ala telah menerangi jiwanya sehingga ia lupa atas perbuatan-perbuatan baik yang pernah ia lakukan, bahkan ia selamat dari sifat-sifat buruk di hati, seperti sombong, riya’, sum’ah dan lainnya yang kesemuanya dapat mengikis pahala atas perbuatan baik, bahkan ia hanya sibukkan dirinya dengan cinta dan rindu kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan cinta dan rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, senantiasa memperindah dirinya untuk lebih indah dihadapan Allah subhanahu wata’ala, sehingga ia lewati hari-harinya dengan hati yang suci dan luhur, dimana diam dan bicaranya adalah cahaya yang membawa keberkahan untuknya dan sekitarnya.
Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala agar hati kita selalu diterangi dengan cahaya sifat-sifat yang mulia, serta menyingkirkan dari hati kita segala sifat yang hina. Kita tidak mampu untuk membersihkan jiwa kita kecuali dengan tuntunan Yang Maha Mengasuh diri kita, sebagaimana munajat dan doa Al Imam Abdullah bin ‘Alawi Al Haddad :
قَد اسْتَعَنْتُكَ رَبِّيْ # عَلَى مُدَوَاةِ قَلْبِيْ
“ Aku telah memohon pertolongan kepadaMu Wahai Rabbi untuk mengobati hatiku”
Jika Al Imam Abdullah bin ‘Alawi Al Haddad menitipkan hatinya kepada Allah subhanahu wata’ala untuk diobati dan dijauhkan dari segala hal dan sifat yang tidak terpuji, maka terlebih lagi kita..
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
َياالله...يَاالله... ياَالله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

B ershalawat Kepada Nabi Muhammad SAW


ershalawat Kepada Nabi Muhammad SAW
Senin, 18 Febuari 2013


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا (رواه مسلم)
“ Dari Abi Hurairah Ra, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya ( melimpahkan rahmat) sepuluh kali ”. ( HR. Muslim )
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Tunggal dengan keabadian , Tunggal dengan kesempurnaan, Maha Tunggal menciptakan kerajaan alam semesta dan menghamparkannya dari tiada, Yang Maha memunculkan keluhuran-keluhuran bagi hamba-hambaNya di dunia dan di akhirat, keluhuran dunia yang fana dan keluhuran akhirat yang abadi, dan semua ciptaan Allah telah diisi dengan segala kenikmatan. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala menciptakan air maka Allah simpan sedemikian banyak kenikmatan pada air itu, diantaranya air tersebut sebagai penghilang haus dan dahaga, sebagai pencuci dan pensuci (bersuci), sebagai tempat kehidupan hewan-hewan air, sebagai pemandangan yang indah dan lain sebagainya dari manfaat-manfaat yang Allah ciptakan dalam air tersebut. Demikian pula Allah subhanahu wata’ala menciptakan api, diantara manfaat api adalah untuk memasak, memanaskan, menghangatkan, dan lain sebagainya dari hal-hal yang bermanfaat dari penggunaan api tersebut.
Kemudian Allah subhanahu wata’ala menciptakan tanah dan menumbuhkan bermacam-macam tumbuhan di atasnya yang menghasilkan berbagai macam buah-buahan yang mana memiliki manfaat yang berbeda-beda, menumbuhkan sayur-sayuran dan pepohoan yang dapt digunakan uga untuk berteduh dan lainnya. Lalu Allah subhanahu wata’ala menciptkan hewan-hewan yang memiliki manfaat yang bermacam-macam, sehingga terkadang ada hewan yang nampaknya tidak bermanfaat namun kenyataannya justru hewan tersebut membawa manfaat yang besar, sebagaimana yang kita ketahui bahwa cairan yang paling manis adalah madu padahal asal mula madu adalah dikeluarkan oleh serangga, begitu juga kain yang paling bagus dan paling mahala dalah sutera padahal asal mulanya terbuat dari ulat, adapun minyak wangi yang paling mahal adalah misk padahal asal mulanya berasal dari bagian darah kijang, demikian banyak hal-hal yang berharga dan dimuliakan di muka bumi ini ternyata berasal dari hal-hal yang hina.
Dan Allah subhanahu wata’ala juga menjadikan dalam ciptaan-ciptaanNya itu terdapat mudharat (bahaya), seperti air yang dapat membawa musibah, bakteri , penyakit dan lain sebagainya, begitu juga pada ciptaan yang lainnya seperti api, tanah, gunung-gunung, pepohonan, udara, kesemua ciptaan itu dapat juga membawa musibah selain juga membawa manfaat. Kemudian Allah subhanahu wata’ala mengutus sang Rahmatan Lil’alamin, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa rahmat bagi sekalian alam semesta, yang kemudian Allah menjadikan banyak hal yang tadinya akan membawa musibah dari ciptaan-ciptaan Allah subhnahu wata’ala, berubah menjadi membawa manfaat. Sehingga hanya dengan dzikir-dzikir yang sepertinya sangat remeh dan tidak berartipun hal itu justru dapat menghindatkan seseorang dari musibah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Shahih Muslim bahwa seorang sahabat mengadu bahwa ia telah tersengat kalajengking, maka Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam berkata : “ Jika engkau membaca doa :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“ Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang mulia dan sempurna dari kejelekan yang diciptakan”
Sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali sore hari, maka sungguh engkau tidak akan ditimpa bahaya apa pun. Demikian rahasia kemuliaan dari tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Selanjutnya hadits riwayat Shahih Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ( رواه مسلم )
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya ( melimpahkan rahmat) sepuluh kali”. ( HR. Muslim)
Adapun shalawat Allah kepada hamba-hambaNya adalah bahwa Allah melimpahkan rahmat kepada mereka. Sedangkan shalawat dari malaikat adalah bahwa malaikat memohonkan pengampunan dosa-dosa untuk hamba kepada Allah subhanahu wata’ala. Adapun shalawat dari manusia adalah berupa doa dan munajat kepada Allah subhanahu wata’ala agar menambahkan kemuliaan kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, makhluk yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala. Maka dari hadits tersebut terbukalah rahasia keagungan cinta Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ( الأحزاب : 56 )
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. ( QS. Al Ahzaab : 56 )
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang yang bershalawat kepadanya sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya (melimpahkan rahmat) sepuluh kali. Sungguh ribuan shalawat dari kita tidak berarti dibanding dengan shalawat Allah, bahkan jika seluruh alam semesta ini bershalawat maka hal itu tidak akan menyamai satu shalawat dari Allah subhanahu wata’ala. Dan disini Allah subhanahu wata’ala akan bershalawat sepuluh kali untuk orang yang bershalawat kepada nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam satu kali. Hal ini menunjukkan sungguh besarnya sambutan Allah subhanahu wata’ala kepada yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, satu kali cinta seseorang kepada sang nabi maka Allah jawab dengan sepuluh kali cinta dari Allah subhanahu wata’ala. Jadi mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah perbuatan yang kultus atau syirik, namun mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah merupakan anugerah besar dan akan berlanjut dari hal itu limpahan anugerah yang lebih besar dari Allah subhnahu wata’ala di dunia dan di akhirat.
Selanjutnya kita membahas kitab Ar Risalah Al Jami’ah karangan Al Imam Ahmad bin Zen Al Habsyi Ar, dan kita telah selesai dari pembahasan kalimat :
اَلْحَمْدُللهِ رَبِّ الْعَالمَِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
Di malam ini kita akan membahas kalimat وَصَلَّى اللهُ “Washalla Allahu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam :
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
“ Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah bershalawat untuknya sepuluh kali, dan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan (dosa), dan ditinggikan baginya sepuluh derajat”.
Adapun yang dimaksud dengan ditinggikan sepuluh derajat adalah didekatkan kepada Allah subhanahu wata’ala sepuluh kali lebih dekat dari keadaan sebelumnya, maka seandainya seseorang yang hidup di saat ini ia bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam satu kali, maka Allah akan mendapatkan sepuluh kali shalawat dari Allah subhanahu wata’ala, dan dihapuskan darinya sepuluh dosa, serta ia terangkat sepuluh derajat lebih dekat kepada Allah subhanahu wata’ala, sungguh betapa beruntungnya orang yang cinta kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa mulianya perkumpulan shalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka setelah bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pilihlah doa yang ingin diminta dan dipanjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala karena orang tersebut telah terangkat sepuluh derajat lebih tinggi, dan telah berjatuhan darinya sepuluh dosa, sehingga ketika itu ia berada lebih dekat pada pintu terkabulnya doa-doa, demikian agungnya kemuliaan satu shalawat. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan teriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabiir oleh Al Imam At Thabrani:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ عَشْرًا بِهَا مَلَكٌ مُوَكَّلٌ بِهَا حَتَّى يُبْلِغْنِيهَا
“ Barangsiapa bershalawat kepadaku, Allah bershalawat dan bersalam kepadanya sepuluh, dan shalawat itu ada malaikat yang membawanya hingga menyampaikannya kepadaku”
Dalam hadits ini ditambahkan bahwa Allah subhanahu wata’ala juga memberi salam kepada yang bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seseorang jika mendengar bahwa pak RW kirim salam kepadanya maka ia sangat gembira, terlebih lagi jika ia adalah lurah, bupati, gubernur, atau presiden dan terlebih lagi jika yang bersalam adalah Rabbul ‘alamin subhanahu wata’ala karena seseorang telah bershalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beruntunglah orang-orang yang duduk dalam perkumpulan yang terang benderang dengan shalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Kahil :
ياَ أَبَا كَاهِل أَنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُلَّ يَوْمٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَكُلَّ لَيْلَةٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ حُبًّا بِيْ وَشَوْقًا إِلَيَّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ ذُنُوْبَهُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَذَلِكَ الْيَوْم.
“Wahai Aba Kahin, seseungguhnya barangsiapa yang bershalawat kepadaku di setiap siang hari 3 kali dan setiap malam 3 kali dengan penuh kecintaan kepadaku dan kerinduan kepadaku, sungguh Allah akan mengampuni dosa-dosanya di malam itu dan di hari itu”
Para pecinta dan yang rindu kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam maka Allah subhanahu wata’ala akan menghapus dosa-dosanya di malam dan di siang itu, yaitu dengan shalawat yang dipenuhi cinta dan rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sayyidina Anas bin Malik berkata teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari :
مَا رَأَيْنَا مَنْظَرًا أَعْجَبَ مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“ Tidaklah kami melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”
Dalam riwayat yang lain disebutkan :
كَأَنَّهُ قِطْعَةُ قَمَرٍ
“ Seakan-akan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah potongan bulan purnama”
Dan dalam riwayat yang lain disebutkan :
كَأَنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ تَدُوْرَانِ فِيْ وَجْهِهِ
“ Seakan-akan matahari dan bulan beredar di wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”
Wajah terindah yang dicipta oleh Allah subhanahu wata’ala, makhluk yang paling ramah dan paling baik kepada semua teman, dan berakhlak luhur kepada semua musuhnya. Disebutkan dalam sebuah riwayat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat dijamu dengan makanan oleh orang-orang Yahudi, maka nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi jamuan tersebut dimana makanan itu telah dibubuhi racun, dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengulurkan tangan pada makanan tersebut, maka makanan yang sudah dimasak itu berbicara dengan berkata : “Wahai Rasulullah , jangan engkau memakanku karena aku telah diberi racun”, maka Rasulullah shallallahu menarik kembali tangan beliau dan melarang para shahabat untuk memakannya, namun sebagian dari para sahabat ada yang telah memakannya sehingga mereka pun meninggal.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta untuk mencari dan orang yang telah membubuhi racun pada makanan tersebut, maka tertangkaplah seorang wanita Yahudi yang telah meracuni makanan-makanan tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya : “Mengapa engkau meracuni makanan-makanan ini?”, wanita Yahudi itu menjawab :“Karena aku ingin bukti bahwa engkau adalah benar sebagai Rasulullah, sebab jika engkau hanyalah sekedar mengaku-ngaku sebagai Rasulullah maka engkau pasti akan memakan makanan itu sehingga engkau akan meninggal, namun jika engkau adalah benar seorang nabi maka engkau tidak akan memakan makanan yang beracun itu, dan ternyata engkau tidak memakannya maka sungguh engkau adalah benar-benar nabi”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Bebaskanlah wanita itu”, sehingga beliau tidak menghukum wanita itu justru membebaskannya, adakah akhlak yang lebih mulia dari akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?!.
Hal ini juga membuktikan bahwa makanan tersebut mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian rahasia budi pekerti terindah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana sulit untuk kita temui di barat dan timur serta sulit untuk kita ketahui kecuali dengan mempelajarinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dimuliakan Allah subhanahu wata’ala begitu juga orang-orang yang mencintainya shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana hadits yang telah disebutkan. Dan kita berada di majelis ini, telah berapa kali kita bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga diantara shalawat itu ada yang menjadi penghapus atas dosa-dosa kita, dan orang-orang yang berkumpul di tempat ini kesemuanya adalah orang-orang yang mencintai dan rindu kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yan teriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabir oleh Al Imam At Thabrani Ar:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ بَلَغَتْنِيْ صَلاَتُهُ وَصَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَكُتِبَ لَهُ سِوَى ذَلِكَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ
“ Barangsiapa yang bershalawat untukku maka shalawat itu akan sampai kepadaku, dan aku bershalawat untuknya, dan selain itu dituliskan baginya sepuluh kebaikan”
Demikian rahasia kemuliaan bershalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hadits yang menjelaskan tentang kemuliaan shalawat sangatlah banyak. Dan pembahasan kita dalam kitab Ar Risaalah Al Jaami’ah masih sampai dalam pembahasan kalimat وَصَلَّى اللهُ “ Washalla Allahu”. Malam Selasa yang akan datang insyaallah akan kita lanjutkan kembali pembahasan tentang makna shalawat ini, dan masih banyak penjelasan akan hal ini dimana sebagai penyemangat dan kabar gembira untuk orang-orang yang bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun sebenarnya telah cukup bagi kita untuk memahami kemuliaan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan firman Allah subhanahu wata’ala :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ( الأحزاب : 56 )
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. ( QS. Al Ahzaab : 56 )
Namun karena masih dangkalnya keilmuan kita, sehingga kita masih perlu untuk mengorek lagi lebih dalam makna-makna dan kemuliaan dari shalawat ini, yang insyaallah akan kita lanjutkan di majelis yang akan datang. Dan di malam ini setelah kita bershalawat dan bersalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita akan melakukan shalat ghaib untuk syarifah Nur binti Ali Al Haddad yang wafat di Singapura, dan untuk saudari Aminah binti Amir dari Papua, yang akan dipimpin oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Atthas dan sekaligus doa penutup.

apakah kata سيدنا boleh diucapkan

  Monday, 01 April 2013
abi Muhammad SAW
Senin, 25 Maret 2013


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ يَشْتُمُوْنَ مُذَمَّمًا وَيَلْعَنُوْنَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّدٌ ( صحيح البخاري)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ.
Limpahan puji kehadirat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, makhluk yang paling diagungkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan semua makhluk kecuali oleh para penduduk neraka, makhluk yang akan tinggal di surga dan tidak satupun dari penduduk surga kecuali memuliakan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , maulana Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, habibuna Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , maka runtuhkanlah seluruh keinginan yang hina demi mendapatkan keinginan yang luhur untuk bersama kelompok para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .
Kita telah membaca hadits dari riwayat Shahih Al Bukhari, dimana para kuffar quraisy karena marahnya kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak lagi menamakan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama Muhammad (yang selalu dipuji) akan tetapi menamakannya Mudzammam (yang selalu dicaci), mereka kuffar quraisy tidak mau mengucapkan nama Muhammad, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat : “Kalian melihat mereka (kuffar quraisy) mencaci dan melaknat Mudzammam (orang yang dicela), sedangkan aku adalah Muhammad (orang yang dipuji)”. Allah subhanahu wata’ala Yang memberi nama beliau Muhammad (orang yang dipuji), sehingga orang yang tidak mau memuji beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia telah bertentangan dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala Yang telah memberi nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama Muhammad (yang banyak dipuji). Mengapa orang-orang tidak mau banyak memuji nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah karena hal itu adalah kultus, atau kesyirikan kah?!, padahal Allah lah Yang telah memberinya nama Muhammad (orang yang banyak puji). Sehingga dengan ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam itu patahlah ucapan orang quraisy yang telah menamakan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Mudzammam, sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Muhammad.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Dalam pembahasan kitab Ar Risalah Al Jami’ah kali ini kita akan membahas kalimat :
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Kalimat وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا telah kita bahas di majelis yang lalu, dan malam ini kita akan membahas kalimat محمد . Terdapat pertanyaan apakah kata سيدنا boleh diucapkan disaat membaca doa tasyahhud dalam shalat, dimana selain dalam doa tasyahhud hal itu boleh-boleh saja, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku (melakukan) shalat”.
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam disaat tasyahhud tidak menamakan dirinya “Sayyidina Muhammad”, maka bolehkah kita menambahi kata “Sayyidina” dengan dasar sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ini yang memmerintah kita untuk melakukan shalat sebagaimana beliau melakukan shalat, maka hal ini tentunya boleh karena hal itu tidak merubah makna, bahkan hal itu lebih lagi mengangkat kemuliaan dan derajat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di hati kita. Begitu juga dalam bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hal yang diperbolehkan untuk kita menambahkan kalimat “sayyidina”, seperti :
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّد
Maka hal yang demikian diperbolehkan, dan juga dikarenakan tidak semua para sahabat membaca bacaan yang sama seperti bacaan-bacaan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ucapkan. Oleh sebab itu ada para sahabat yang membaca bacaan tidak seperti apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu ketika getaran kerinduan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak terkendali. Adapun para sahabat seperti sayyidina Ali bin Abi Thalib, sayyidina Abdullah bin Abbas dan sahabat-sahabat yang lainnya mereka tetap dapat menahan diri dari kerinduan dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka tetap kuat hatinya untuk mengucapkan kalimat :
السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
“ Salam sejahtera atasmu wahai nabi dan limpahan rahmat dan keberkahan”
Sedangkan diantara para sahabat ada tidak mampu untuk mengucapkan kalimat tersebut sehingga diantara mereka terjatuh pingsan ketika membaca kalimat, karena teringat sang kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga mereka diberi keringan dan tentunya dengan adanya udzur untuk mengatakan :
السَّلاَمُ عَلَيْهِ
“ Salam sejahtera atasnya”
Sehingga jika disebabkan karena ingin memuliakan dan mengagungkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka diperbolehkan untuk menambahkan kalimat “Sayyidina” atau “Maulana” untuk memanggil nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Terdapat ribuan bentuk shalawat yang menggunakan lafadz “Sayyidina”, bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menamakan dirinya “Sayyid”, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَاَ فَخْرَ
“ Aku adalah pemimpin anak Adam dan tanpa ada kebanggaan (kesombongan)”
Dan dalam riwayat yang lain beliau bersabda :
أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“ Aku adalah pemimpin manusia di hari kiamat”
Kata “Sayyid” tidak hanya khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun kata itu bisa untuk siapa saja, namun ketika kita mengucapkan kalimat “ Sayyidina wa Maulana Muhammad”, maka maksud kalimat itu tidak ada yang lain kecuali nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian jumlah nama nabi Muhamamd shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak, hingga mencapai lebih dari 100 nama, dimana dari semua huruf hijaiyah terdapat nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai contoh huruf alif ( أ ) yaitu أمين : Amiin (yang dipercaya), diman beliau shallallahu ‘alaihi wasallam digelari dengan Al Amiin, sehingga kuffar quraisy yang selalu memusuhi beliau shallallhu ‘alaihi wasallam mereka masih mempercayai beliau dan tetap menitipkan barang-barang berharga mereka kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam padahal mereka memusuhi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan selalu berusaha untuk membunuh beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, namun karena ketika itu di Makkah tidak ada orang yang dapat lebih dipercaya dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam akan hijrah, beliau tidak meninggalkan begitu saja barang-barang kuffar quraisy yang dititipkan kepada beliau, namun barang-barang tersebut diserahkan kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk dikembalikan kepada pemiliknya para kuffar quraisy, dengan berkata : “Wahai Ali kembalikanlah barang-barang ini kepada pemiliknya, karena mereka telah menitipkannya kepadaku, barang ini milik si fulan, barang ini milik si fulan ”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak lupa akan amanah yang dititipkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, demikianlah akhlak luhur beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang diberi julukan “Al Amiin”.
Kemudian huruf Ba’ ( ب ) yang diantaranya adalah بسام : Bassaam ( yang banyak tersenyum), huruf Ta’ ( ت ) yaitu تقي : Taqiiy (yang bertaqwa), huruf Tsaa’ (ث) yaitu ثابت : Tsaabit ( orang yang tegar atau teguh ), sebagaimana ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam diminta utnuk berhenti berdakwah dan meninggalkan agamanya, maka beliau berkata dengan tegas : “Jika seandainya kalian letakkan bulan di tangan kananku dan matahari di tangan kiriku, agar aku meninggalkan dakwah ini, sungguh aku tidak akan melakukannya”, atau ثبات : Tsabbaat (yang memperkuat orang lain baik di dunia atau di akhirat), sehingga orang yang banyak bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga akan dikuatkan dan diteguhkan dalam melawan dan menghindari perbuatan maksiat.
Kemudian huruf Jim (ج) yaitu جميل : Jamiil atau جمال : Jamaal (yang indah/ keindahan), kemudian huruf Haa’ (ح) yaitu حليم : Haliim (yang berlemah lembut dan memaafkan), huruf Khaa’ (خ) yaituخبير : Khabiir (yang banyak memberi kabar), sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam banyak memberi kabar kepada kita akan kabar-kabar yang dikabarkan oleh Allah kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, setiap rasul adalah Khabiir demikian juga para ulama’ dan para shalihin dimana mereka juga menyampaikan kabar-kabar mulia. Kemudian huruf Daal (د) yaitu داع : Daa’i (yang mengajak), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pemimpin para Daa’i. Kemudian huruf Dzaal (ذ) yaitu ذكي : Dzakiy ( orang yang cerdas). Kemudian huruf Raa’ (ر) yaitu رحمة (kasih sayang), huruf zaay (ز) yaitu زكي : Zakiy (orang yang suci). Dan huruf Siin (س) yang salah satunya adalah سيد : Sayyid (pemimpin), lalu huruf Syiin (ش ) yaitu شكور : Syakuur (yang banyak bersyukur), serta شافع : Syaafi’ (yang memberi syafaat), demikian indahnya nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam sehingga dari semua huruf hijaiyyah terdapat nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada nama makhluk yang lebih banyak di alam semesta ini daripada nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, nama makhluk yang paling dahulu adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan nama mahkluk yang akan membuka surga adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rahasia kebenaran yang dilimpahkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada kita melalui nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan limpahan rahmat yang besar bagi kita, sehingga dengan mengenal nama-nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kita dapat memberi nama sendiri untuk nama anak-anak kita, jika kita merasa kesulitan untuk memintakan nama mereka kepada para ulama’. Inilah rahasia kelembutan Allah subhanahu wata’ala yang terwariskan kepada orang yang memberikan namanya dengan nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana perintah beliau dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam :
سَمُّوْا بِاسْمِيْ
“ Berilah nama dengan namaku”
Hadirin yang dimuliakan Allah, Penjelasan akan nama-nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diawali dengan huruf-huruf hijaiyah insyaallah akan kita lanjutkan pada majelis yang akan datang. Dan malam ini kita akan melakukan shalat ghaib yang akan dipimpin oleh Al Habib Hud untuk Al Marhum As Syahid As Syaikh Said Ramadhan Al Buthi yang wafat karena di bom di saat beliau mengajar di masjid. Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga Allah mengabulkan segala hajat-hajat kita di dunia dan akhirat, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.